BAHAYA AL-BID’AH DAN AL-FURQAH DAN BAHAYA AHLIL BID’AH

BAHAYA AL-BID’AH DAN AL-FURQAH DAN BAHAYA AHLIL BID’AH

BAHAYA AL-BID’AH DAN AL-FURQAH DAN BAHAYA AHLIL BID’AH

WASIAT PARA ULAMA’ DARI BAHAYA AL-BID’AH DAN AL-FURQAH DAN BAHAYA AHLIL BID’AH WAL FURQAH 
Para Ulama’ Ahlus Sunnah wal Jamaah dari kalangan Salafus Shalih telah banyak meninggalkan wasiat yang memperingatkan kaum Muslimin semua dari bahaya al-bid’ah dan al-furqah dan juga memperingatkan dari bahaya ahlil bid’ah wal furqah. Karena bahaya pemahaman sesat dan orang-orang yang berpemahaman sesat, amat besar terhadap agama kita dan juga terhadap ummat kita secara keseluruhan. Al-Imam Al-Aajurri dalam Asy-Syari’ah jilid ke 5 hal. 2540 Bab Dzikru Hijrati Ahlil Bida’i wal Ahwa’ie membawakan padanya beberapa riwayat dengan sanadnya dari wasiat-wasiat para Imam – Imam Ahlis Sunnah wal Jama’ah tentang bagaimana menyikapi ahli bid’ah wal furqah dan bagaimana menjaga diri dari bahaya al-bid’ah dan al-furqah. Beberapa riwayat itu antara lain adalah sebagai berikut:
Abu Qilabah rahimahullah menyatakan: “Sesungguhnya ahlul ahwa’ (yakni pengekor kemauan hawa nafsu. Ini adalah nama lain dari pada ahlul bid’ah. Karena dalam beragama mereka tidaklah terikat dengan dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan pemahaman para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, akan tetapi lebih terikat dengan selera hawa nafsu mereka, pent) adalah ahlu dhalalah (yakni orang-orang yang sesat, pent). Dan aku tidak melihat jalan yang mereka tempuh kecuali ke neraka.”
Beliau menyatakan pula: “Tidaklah seseorang itu membikin suatu bid’ah kecuali pasti (pada akhirnya, pent) menghalalkan pedang (yakni menggunakan pedang untuk menumpahkan darah Muslimin, pent).”
Amr bin Malik rahimahullah menceritakan bahwa Abul Jauza’ rahimahullah ketika menyebutkan ahlul ahwa’ , beliau pun menyatakan: “Demi yang diri Abul Jauza’ ada di tangan-Nya. Seandainya rumahku dipenuhi oleh monyet dan babi, sungguh yang demikian itu lebih aku sukai daripada aku bertetangga dengan seorang dari mereka. Dan sungguh mereka itu telah masuk dalam katagori orang-orang yang diberitakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya: (artinya) Demikianlah kalian mencintai mereka dan mereka tidak menyenangi kalian dan kalian beriman kepada kitab (yakni Al-Qur’an) secara keseluruhan. Mereka itu bila berjumpa dengan kalian, mereka akan mengatakan: Kami beriman. Tetapi bila mereka bersendirian, mereka akan menggigit jari-jemari mereka karena jengkel kepada kalian. Katakanlah: Mampuslah kalian dengan kejengkelan kalian itu. Sesungguhnya Allah itu Maha Tahu apa yang terbetik di hati orang-orang.” (Ali Imran 119).
Sallam bin Abi Muthi’ menyatakan: Ayyub As-Sakhtiani telah menamakan semua Ahlul Bid’ah itu dengan nama Khawarij. Dan beliau menyatakan: “Orang-orang Khawarij itu berbeda-beda namanya, akan tetapi mereka akan bersepakat dalam perkara pedang (yakni mereka akan bersepakat dalam menghalalkan penggunaan pedang dalam rangka menumpahkan darah Muslimin, pent).”
Khawarij dalam istilah Ayyub As-Sakhtiani ini dalam makna keluarnya mereka dari shirathal mustaqim (yakni jalan kebenaran) dan dalam hal kesamaan mereka dengan salah satu prinsip bid’ah Khawarij yang menghalalkan darah Muslimin.
Harb bin Maimun menceritakan bahwa Khuwail mengisahkan: Aku pernah duduk di majlisnya Yunus bin Ubaid. Tiba-tiba datang seorang pria kepada beliau dan menyatakan: “Wahai Imam, engkau melarang kami untuk duduk dengan Amer bin Ubaid (dia adalah seorang tokoh Mu’tazilah yang amat membenci Ahlus Sunnah wal Jama’ah, pent), tetapi kenyataannya anakmu sekarang ini sedang berada di rumahnya Amer bin Ubaid.” Khuwail selanjutnya menceritakan: Tidak lama setelah orang itu melaporkan kepada Yunus tentang anaknya itu, anak tersebut datang ke majlis ayahnya. Maka Yunus pun menyatakan kepada anaknya itu: “Wahai anakku, engkau telah mengerti pandanganku terhadap Amer bin Ubaid dan engkau mendatangi rumahnya?” Maka anaknya pun menjawab: “Aku sesungguhnya pergi ke rumahnya karena diajak si fulan.” Yunus pun menasehati anaknya: “Wahai anakku, aku telah melarang engkau dari zina, mencuri dan minum khamr. Dan sungguh, seandainya engkau meninggal dunia bertemu Allah dengan amalan-amalan itu, lebih aku senangi daripada engkau menjumpai-Nya dengan pandangan agamanya Amer dan teman-temannya.”
Yakni Yunus bin Ubaid menasehatkan kepada putranya bahwa mati dalam keadaan membawa dosa maksiat perbuatan zina, mencuri, dan minum khamer, sungguh lebih ringan daripada mati dalam keadaan di atas bid’ah kesesatan yang diajarkan oleh Amer bin Ubaid dan kawan-kawannya. Karena bid’ah itu sekecil apapun, tetap lebih besar dosanya daripada kemaksiatan apapun selain syirik kepada Allah Ta`ala.
Al-Imam Abu Utsman Isma’il bin Abdurrahman As-Shabuni rahimahullah menerangkan: “Janganlah saudara-saudaraku –semoga Allah memelihara mereka- terkecoh dengan banyaknya ahlul bid’ah dari sisi jumlah mereka. Karena banyaknya Ahlul Bathil (yakni pengekor kebatilan) itu dan sedikitnya Ahlul Haq (yakni yang mengikuti kebenaran, pent) adalah termasuk dari tanda-tanda dekatnya hari kiamat. Hal ini sebagaimana telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam sabda beliau:

“Sesungguhnya termasuk dari tanda-tanda akan terjadinya hari kiamat dan dekatnya ialah ketika sedikitnya penyebaran Ilmu dan banyaknya kejahilan.” (HR. As-Shabuni dalam kitab Aqidatis Salaf wa Ash-habul Hadits hal 124 nomor hadits 177 dari Anas bin Malik)

Dan Ilmu yang dimaksud dalam hadits ini adalah As-Sunnah (yakni ajaran-ajaran Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam, pent). Sedangkan yang dimaksud kejahilan itu adalah kebid’ahan.” (Aqidatus Salaf Ashabil Hadits, Al-Imam Abi Utsman Isma’il bin Abdurrahman As-Shabuni, hal. 124 riwayat ke 177 – 178).
Al-Imam Ibnu Abi Zamanin rahimahullah dalam kitabnya Ushulus Sunnah, meriwayatkan dari Mus’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqas, beliau menceritakan: “Ayahku (yakni Sa’ad bin Abi Waqqas radliyallahu `anhu, pent) berwasiat kepadaku: “Wahai anakku, janganlah engkau duduk bercengkerama dengan orang yang terkena fitnah (yakni fitnah kebid’ahan atau kesesatan, pent). Karena duduk bercengkerama dengan orang yang demikian ini tidak akan meleset dari kamu salah satu dari dua kemungkinan; yaitu: Kemungkinan dia akan menggelincirkan engkau dari jalan kebenaran, atau kemungkinannya akan menjadikan hatimu dijangkiti penyakit (yaitu penyakit ragu kepada kebenaran, pent).” (Ushulus Sunnah, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah Al-Andalusi Ibnu Abi Zamanin, hal. 302 riwayat ke 235).

Sumber : https://aziritt.net/