Berita Gadget Indonesia Terpopuler

Kumpulan Informasi, Tips dan Trik Seputar Gadget Indonesia Terpopuler

Bentuk kerja sama guru dengan konselor

 

Pelaksanaan tugas pokok guru dalam proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari kegiatan bimbingan,sebaliknya layanan bimbingan di sekolah perlu bimbingan atau bantuan guru.tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksanakan oleh guru,konselor,dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja.sementara itu,masing-masing pihak tetap memilki wilayah pelanyanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompotensi peserta didik.

Contoh kerja sama guru dan konselor

  1. Bagaimana timbulnya kecemasan siswa dalam menghadapi ujian nasional

Kecemasan merupakan suatu keadaan emosional yang tidak menyenangkan,timbul secara mendadak,sumber utama pada kecemasan pada peserta didik adalah ketakutan akan gagal terutama pada siswa yang belajarnya rendah.

Ujian nasional (UN),dengan sistem pemberlakukan nilai minimal rata-rata secara nasional dijadikan indikator utama untuk mengetahui standar mutu pendidikan nasional indonesia sebagaimana di maksud pada UU No.20 tahun 2003 menimbulkan kecemasan,bukan haya pada peserta didik dan orang tua tetapi juga guru dan elemen masyarakat.

Implementasi dari lemahnya pertahanan diri peserta didik dalam menerangi kecemasannya adalah :

  1. Melakukan aksi unjuk rasa menolak penambahan mata pelajaran seperti dilakukan ratusan siswa.
  2. Melakukan sikap harap-harap pada teman-teman,guru dan membuat catatan kecil.
  3. Yang terbutuk adalah pasrah dengan menjawab soal dengan sistim arisan
  4. Komponen

            Ada tiga komponen utama  dalam konferensi kasus yaiatu : kasus itu sendiri,peserta,dan pembimbing atau konselor.

  1. Kasus-kasus yang dibahas dalam konferensi kasus dapat mencakup :
  2. masalah klien yang sedang ditangani oleh konselor
  3. masalah yang dialami seseorang atau beberapa orang yang belum ditangani oleh konselor
  4. kondisi lingkungan yang terindikasi atau berpotensi bermasalah.
  5. Laporan terjadinya masalah tertentu
  6. Isu yang patut ditangani oleh memperoleh penanganan yang memadai.
  7. Peserta,para peserta dalam konferensi kasus pada dasarnya adalah semua pihak yang terkait dengan kasus atau permasalahan yang dibahas. Secara lebih rinci,pihak-yang terkait dengan permasalahan (peaerta konferensi kasus) adalah:
  8. Individu (seorang atau lebih) yang secara langsung mengalami masalah,
  9. Individu (seorang atau lebih) yang terindikasi secara masalah,
  10. Orang-orang yang berperan penting berkenaan dengan masalah yg di bahas,
  11. Orang-orang yang dapat memberikan sumbangan bagi pencapaian tujuan konferensi kasus,
  12. Ahli berkenaan degan masalah byang dibahas.
  13. Konselor (pembimbing)merupakan penyelenggara konferensi kasus mulai perencanaan, peleksanaan, penggunaan hasil, hingga pelaporan secara menyeliruh.
  14. Teknik

      Implementasi  konferensi kasus dapat menerapkan beberapa teknik sebagai berikut:

  1. Kelompok informal. Konferensi kasus yang menggunakan teknik ini bersifat tidak resmi,  Artinya tidak menggunakan cara-cara tertentu yang bersifat instruksional. Atau tidak ada instruksi atau perintah dari siapa pun.
  2. Pendekatan normatif. Penerapan teknik ini harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  3. Penyebutan nama seseorang harus disertai penerapan asas kerahasiaan (apabila memungkinkan penyebutan nama dihindari)
  4. Pengungkapan sesuatu  dan pembahasannya harus didasarkan pada tujuan positif yang menguntungkan sumua pihak yang terkait. Dengan perkataan lain, apapun yang dibahas tidak merugikan pihak-pihak tertentu,
  5. Pembicaraan dalam suasana bebas dan terbuka, objektif tanpa pamrih, dan tidak didasarkan atas kriteria kalah menang,
  6. Diminta kelompok  diwarnai semangat memberi dan menerima.
  7. Bahasa dan cara-cara yang digunakan diwarnai oleh asas kenormatifan.
  8. Pembicaraan terfokus,semua peserta konferensi kasus bebas menggembangkan yang diketahui,dipikirkan,dirasakan,dialami,dan dibanyagkan akan terjadi berkaitan dengan kasus yang dibicarakan,namun jangan samapi pembicaraan meluas dluar konteks,mengada-ada,apalagi samapi menyentuh daerah yang menyentuh daerah yang menyinggung pribadi-pribadi tertentu.untuk itu,konselor harus mampu anatara lain :
  9. Membangun suasana nyaman bagi seluruh peserta dalam mengukuti pembicaraan.
  10. Mendorong para peserta untuk berperan optimal dalam pembahasan kasus.
  11. Mengambil inti pembicaraan dan menyimpulkan seluruh isi pembicaraan
  12. Pelaksanaan kegiatan

     Konferensi kasus dapat dilaksanakan dimana saja,di tempat konselor bertugas mempraktikan pelayanan profesional,di sekolah dan madrasah yang menyangkut siswa atau personil sekolah dan madrasah dan di tempat-tempat lainnya.atau dibuat kesepakatan anatara konselor dan peserta serta pihak yang bertanggung jawab atas tempat tertentu.prinsipnya,tempat berlagsungnya konferensi kasus harus nyaman dan kondusif mendukung pelaksanaan konferensi kasus sesuai tuntutan asas-asas konseli

     Pelaksanaan konferensi kasus menempuh tahap-tahap sebagai berikut :

  1. Perencanaan

Pada tahap ini hal-hal yang dilakukan adalah :

  1. Menetapkan kasus yang akan dibawa ke konferensi
  2. Menyakinkan klien (siswa),tentang pentingnya konferensi kasus
  3. Menetapakan peserta konferensi kasus
  4. Menetapkan waktu atau tempat knoferensi kasus
  5. Menyiapkan kelengkapan bahan atau materi untuk pembahasan dalam konferensi kasus
  6. Menyiapkan kelengkapan administrasi
  7. Pelaksanaan

Pada tahap ini hal-hal yang dilakukan adalah :

  1. Mengomunikasikan rencana konferensi kasus kepada para peserta
  2. Menyelenggarakan knoferensi kasus,yang meliputi kegiatan :
  • membuka pertemusn,
  • menyelenggarakan penstrukturan dengan asas kerahasiaan sebagai pokok kasus,meminta komitmen peserta untuk penanganan kasus
  • membahas kasus
  • menegaskan peran masing-masing peserta dalam penanganan kasus
  • menyimpulkan hasil pembahasan,dan memantapkan komitmen peserta,dan
  • menutup pertemuan
  1. evaluasi,pada tahap ini hal-hal yang yang di lakukan adalah :
  2. mengevaluasi kelengkapan dan kemanfaatan hasil konferensi kasus sertan komitmen peserta dalam penanganan kasus
  3. mengevaluasi proses pelaksanaan konferensi kasus
  4. analisis hasil evaluasi.pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah melakukan analisis (pembahasan) terhadap efektivitas hasil konferensi kasus terhadap penangan kasus
  5. tidak lanjut.pada tahap ini hal-hal yang dilakukan adalah :
  6. menggunakan hasil analisis untuk melengkapi data dan memperuat komitemn penanganan kasus
  7. mempertimbangkan apakah diperlukan konferensi kasus lanjutan
  8. laporan.pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah :
  9. menyusun laporan kegiatan konferensi kasus
  10. mengoptimalkan laporan kepada pihak-pihak yang terkait dengan kasus yamg telah dibahas
  11. mendokumentasikan laporan yang telah disusun.

Baca Juga :