BENTUK LAIN KEMUNAFIKAN

BENTUK LAIN KEMUNAFIKAN

BENTUK LAIN KEMUNAFIKAN

Perkembangan situasi dan kondisi Ummat Islam dari masa ke masa, akhirnya menampilkan kemunafikan model baru dalam menipu dan mengkhianati ummat Islam. Model baru kemunafikan tersebut adalah melalui bid’ah yang dilansir di kalangan Ummat Islam lengkap dengan syubhat dan syahwat.

Syubhat itu adalah pengkaburan agama dengan cara menjungkir-balikkan keterangan agama, ketika kebodohan Ummat merajalela di kalangan mereka. Sedangkan syahwat itu adalah ambisi dan keinginan keras terhadap berbagai kepentingan dunia, sehingga karenanya hawa nafsu mendominasi akal dan pikirannya dalam memahami agama. Akibatnya keterangan agama itu difungsikan hanya menjadi pembenar terhadap segala selera hawa nafsu itu.

Demikianlah syubhat dan syahwat itu sebagai jalan masuk berbagai bid’ah-bid’ah di kalangan Ummat Islam dalam kehidupan beragama mereka. Dan ketika berbagai bid’ah itu bercokol di kalangan Ummat Islam, muncullah para penganut dan pembela bid’ah yang sering dinamakan ahlul bid’ah. Golongan ahlul bid’ah tersebut selalu menghadapi Ummat Islam dengan dua muka yang sering diistilah sebagai taqiyyah . Golongan ini penuh rencana jahat terhadap Ummat Islam dan amat berkepentingan untuk terjadinya perpecahan di kalangan Ummat ini, melalui penanaman semangat hizbiyyah (yakni pengelompokan kaum Muslimin yang tidak berdasarkan dalil). Golongan Ahlul Bid’ah selalu bersekongkol dengan musuh-musuh Islam untuk merendahkan dan menghinakan Ummat Islam, terutama para Ulama’nya dari kalangan Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , kemudian Ulama’ dari kalangan Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in, kemudian segenap Ulama’ Ahlul Hadits dari masa ke masa sampai hari kiamat kelak. Para Ulama’ inilah yang menjadi sasaran penghinaan dan pelecehan ahlul bid’ah. Jadi ahlul bid’ah itu adalah bentuk lain gerombolan orang-orang munafiq di zaman ini, waspadalah terhadap golongan ini dan jangan terkecoh oleh tipu muslihat mereka.

Salah satu bentuk gerakan Ahlul Bid’ah yang memakai kedok ishlah adalah gerakan yang menamakan dirinya Madrasah ishlahiyyah . Gerakan ini digagas oleh seorang tokoh dari Mesir bernama Muhammad Abduh yang dibantu oleh murid setianya dan sekaligus sebagai juru kampanyenya yang paling tangguh bernama Muhammad Rasyid Ridha. Faham bid’ah yang diperjuangkan oleh gerakan ini adalah Mu’tazilah , yang menyatakan bahwa akal pikiran adalah sandaran kebenaran untuk memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits. Bahkan bila keterangan Al-Qur’an dan Al-Hadits itu bertentangan dengan akal, maka menurut Muhammad Abduh ialah: “Pokok Kedua Dari Islam ialah mengedepankan akal dari pada keterangan dhahir dari Syari’ah ketika terjadi kontradiksi.” Demikian Abduh memberikan judul tulisannya, kemudian dia menerangkan prinsip hidupnya dalam memahami agama, sebagai berikut: “Aku dengan segera menerangkan kepadamu satu prinsip yang diikuti dan disepakati oleh segenap Ummat Islam kecuali hanya sekelompok kecil yang tidak perlu dianggap, bahwa bila akal bertentangan dengan keterangan dalil naqli (yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits, pent), maka yang diambil ialah pandangan akal. Adapun dalil naqli yang bertentangan dengan akal itu diperlakukan dengan dua cara; yaitu: Mengakui keshahihan (keakuratan) riwayat dalil naqli itu tetapi diakui pula ketidakmampuan kita untuk memahami maknanya, dan menyerahkan kepada Allah tentang makna sesungguhnya. Cara kedua, mencocokkan makna dalil naqli itu, tetapi tetap terikat dengan qaidah-qaidah bahasa Arab, dengan apa yang dipahami oleh akal.” (lihat Al-Islam wan Nasraniyah , Muhammad Abduh, hal. 56, yang diterbitkan dan diberi catatan kaki dan pengantar oleh Muhammad Rasyid Ridha).

Penerapan pola pikir yang diutarakan oleh Muhammad Abduh seperti ini ternyata menunjukkan kepada kita bahwa yang dimaksud olehnya dengan akal sebagai pokok penilaian terhadap dalil naqli dan pandangan akal yang harus dimenangkan bila dalil naqli bertentangan dengannya ialah logika materialis. Pola pikir yang demikian ini tentu tidak bisa dikatakan sebagai landasan berfikir gerakan ishlah . Karena akibat gerakan yang dilandasi oleh pemahaman demikian ini akan menyeret kaum Muslimin kepada pengingkaran kepada beberapa keyakinan agamanya yang tidak bisa dinalar oleh logika materialis, seperti keyakinan adanya makhluq yang bernama Malaikat dan Jin. Muhammad Abduh dengan logika materialismenya akhirnya mengingkari keberadaan makhluq-makhluq tersebut dengan alasan bahwa apa yang dikatakan makhluq-makhluq tersebut tidak bisa dibuktikan dengan logika materialis (lihat tafsir Al-Manar , Muhammad Rasyid Ridha, jilid hal. ). Yang demikian ini tentu bukan ishlah , tetapi ifsad(pengrusakan).

Muhammad Abduh dengan logika materialismenya juga menggulirkan ide persatuan agama-agama samawi (yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam). Abduh menulis surat kepada Pendeta Ishaq Tailor, seorang tokoh agama Nasrani yang mengkampanyekan persatuan agama-agama samawi tersebut. Dia dalam suratnya itu mengelu-elukan dan menyatakan dukungannya yang penuh kepada ide sang pendeta, sembari menyatakan: “Dan kita melihat bahwa Taurat, Injil dan Al-Qur’an akan menjadi kitab-kitab suci yang yang mencocoki satu dengan yang lainnya, dan akan menjadi lembaran-lembaran yang saling membenarkan satu dengan lainnya, yang semuanya akan dipelajari oleh anak-anak dari kedua agama (Islam dan Nasrani), dan akan dihormati kitab-kitab itu oleh tokoh-tokoh dari kedua agama, sehingga akan sempurnalah cahaya Allah di muka bumi, dan akan menanglah agama-Nya yang benar atas segenap agama-agama yang lainnya.” ( Al-A’mal Al-Kamilah , kumpulan karya-karya tulis Muhammad Abduh, penyunting: Muhammad Ammarah, jilid 2 hal. 356, Darus Syuruq cetakan th. 1414 H / 1993 M).

Pandangan yang demikian tentu tidak bisa sama sekali untuk dikatakan ishlah . Bahkan semestinya, yang demikian ini dinamakan ifsad . Karena Al-Qur’an telah menyatakan pandangan Allah Ta`ala terhadap kesesatan dan kafirnya orang-orang Yahudi dan Nasrani.

1). Terhadap orang-orang Yahudi Allah Ta`ala menyatakan:

“Katakanlah: Apakah kalian mau aku beri kabar dengan hukuman Allah yang paling jelek bagi kalian orang-orang Yahudi, yaitu orang-orang yang dikutuk oleh Allah dan dimurkai atasnya. Dan sebagian orang-orang yang dikutuk itu Allah jadikan monyet-monyet dan babi-babi dan mereka itu dikutuk karena menyembah para setan. Mereka itu adalah sejelek-jelek manusia dan orang-orang yang paling sesat.” ( Al-Maidah : 60).

2). Terhadap orang-orang Nashara Allah Ta`ala menyatakan:

“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Allah itu adalah Al-Masih bin Maryam.” ( Al-Maidah : 17)

3). Terhadap agama Islam Allah menyatakan:

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” ( Al-Maidah : 3)

Sedang syarat dari Allah Ta`ala terhadap Yahudi dan Nashara bila ingin bersatu dengan kaum Muslimin adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadatan dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain-Nya. Hal ini dinyatakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya sebagai berikut:

“Katakanlah: Wahai Ahlul Kitab (yakni orang-orang Yahudi dan Nasrani), kemarilah kalian kembali kepada kata yang satu di antara kami dengan kalian. Yaitu kita tidak beribadah kecuali hanya bagi Allah dan kita menyekutukan-Nya dengan yang lain-Nya. Dan tidaklah sebagian kita menjadikan sebagian yang lainnya sebagai sesembahan selain Allah. Maka bila kalian menolak ajakan ini, katakanlah kepada mereka: Sesungguhnya kami adalah orang-orang Muslim yang tunduk kepada Syari’at Allah.” ( Ali Imran: 64)

Menyerukan kesatuan agama-agama samawi dengan tidak membangunnya di atas ketauhidan ibadah bagi Allah adalah berarti merusakkan prinsip utama dan terutama bagi Islam, yaitu prinsip ketauhidan dalam peribadatan. Dan pengrusakan terhadap prinsip ini adalah pengrusakan yang amat mendasar. Maka tidak mungkin yang demikian ini dinamakan ishlah , bahkan mestinya dinamakan ifsad .

Baca Juga :