Berbuat Adi-lah Wahai Salafiyin

Berbuat Adi-lah Wahai Salafiyin

Para salafiyyin dari masa ke masa di manapun berada, selalu berusaha mempelajari Islam dengan merujuk kepada pemahaman salafus shalih, yaitu tiga generasi pertama tersebut di atas yang meliputi generasi shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi sallam, generasi tabi’in dan generasi tabi’it tabi’in. Para salafiyyin merasa tentram hatinya ketika telah menyakini bahwa pemahamannya telah terbukti secara ilmiah merujuk kepada pemahaman salafus shalih. Dan semestinya haruslah demikian. 

ADIL ADALAH SIMBOL AKHLAK SALAFIYYIN 
Al-Imam Ar-Raghib Al-Asfahami rahimahullah menerangkan makna adil dalam Mu’jam Mufradatil Alfadhil Qur’an halaman 336-337 sebagai berikut: “Adil itu ada dua pengertian, yaitu pengertian menurut kemutlakan fitrah manusia di mana akal manusia seluruhnya sepakat memandang kebaikannya. Yaitu seperti tidaklah dianggap sikap melanggar bila orang berbuat baik kepada siapa yang berbuat baik kepadanya dan menahan diri dari sikap bermusuhan terhadap orang yang tidak mengganggu kita. Yang demikian ini adalah pengertian adil yang tidak akan dihapus atau dirubah oleh pengertian lain sepanjang masa. Adapun pengertian adil dalam pandangan syari’ah, bisa dihapus dan diganti pengertian itu di sebagian waktu (oleh syari’ah itu sendiri), seperti hukum qishas, hukum pidana yang lainnya, hukum harta peninggalan orang yang murtad dari Islam. Karena adil dalam pengertian ini ialah balasan yang sebanding bagi setiap perbuatan. Bila perbuatannya baik, maka baiklah balasannya dan bila jelek, maka jelek pula balasannya.”
Tentu yang dimaksud oleh Al-Imam Ar-Raghib Al-Asfahami, bahwa adil dalam pengertian syari’ah itu bisa dirubah dan diganti oleh syari’ah itu sendiri di sebagian waktu ialah: Pengertian adil yang berlaku dalam hukum syari’ah di masa Nabi-Nabi terdahulu telah dirubah oleh syari’ah yang dibawa oleh Nabi Muhammmad shallallahu `alaihi wa alihi sallam.
Hukum pidana di masa Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi sallam juga berubah dengan ketentuan wahyu Allah dari masa ke masa di sepanjang dua puluh tiga tahun masa kenabian dan kerasulan beliau. Seperti hukum bagi wanita yang telah menikah jika berzina pada awalnya adalah penjara seumur hidup (Al-Qur’an surat An-Nisa’ 15). Tetapi kemudian hukum ini berubah menjadi cambuk seratus kali bagi yang masih perawan dan rajam (dilempari batu sampai mati) bagi yang telah menikah. Perubahan hukum ini tentu dengan keadilan dan tidaklah dengan kedhaliman. Dan lagi, bila syariat Allah telah menetapkan satu ketetapan hukum ataupun penilaian, pastilah ketentuan dan penilaian Allah itu yang paling adil dan paling benar. Allah Ta’ala menegaskan:

“Dan tegakkanlah hukum di kalangan mereka dengan hukum yang Allah turunkan (yakni hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dan hati-hatilah engkau dari tipu daya mereka yang ingin menyimpangkan engkau dari sebagaian ketentuan hukum yang Allah turunkan kepadamu. Maka bila mereka berpaling dari Islam ini, katakanlah sesungguhnya Allah hanya ingin menimpakan kepada mereka akibat dari sebagaian dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan orang itu adalah fasiq.” (Al-Maidah: 49)

Allah Ta’ala menuntunkan kita untuk berbuat adil dan menjadikannya sebagai simbol akhlak kaum Muslimin.

“ Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak dengannya dan apabila kalian menghukumi diantara manusia, maka hukumilah dengan adil. Sesungguhnya Allah yang paling baik menasehati kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (An-Nisa: 58).

Sedangkan simbol keadilan bagi umat Islam itu telah ditegaskan oleh-Nya:

“Dan demikianlah Kami jadikan kalian sebagai umat yang adil, agar kalian menjadi saksi yang adil atas perbuatan manusia dan agar Rasul menjadi saksi bagi kalian.” (Al-Baqarah: 143).

Cinta dan benci telah diperingatkan oleh Allah Ta’ala untuk jangan menjadi penghalang bagi upaya bersikap adil.

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian saksi yang adil karena Allah. Dan janganlah kebencian kamu terhadap satu kaum menyebabkan kamu berbuat tidak adil. Berbuat adillah, karena perbuatan adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kalian sesungguhnya Allah itu Maha Tahu dengan apa yang kalian lakukan.” (Al-Maidah: 8)

Bahkan terhadap orang-orang kafir yang tidak menunjukkan sikap permusuhan kepada kaum muslimin, kita diperintahkan oleh Allah untuk bersikap adil:
(ayat)
“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berbuat adil terhadap orang-orang kafir yang tidak memerangi kalian karena alasan agama dan tidak mengusir kalian dari negeri-negeri kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.” (Al-Mumtahanah: 8)

Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi sallam bersabda:

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah di hari kiamat akan ditempatkan di atas panggung yang terbuat dari cahaya di sebelah kanan Allah, dan kedua tangan Allah adalah kanan, yaitu mereka yang berbuat adil dalam hukum meraka dan dalam keluarga mereka dan apa yang dikuasakan padanya.” (HR. Muslim dalam Shahihnya Kitabul Imarah bab. Fadhilatul Amir Al-Adil hadis ke 1827 dari Zuhair).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Maknanya ialah bahwa keutamaan tersebut hanyalah diberikan bagi mereka yang berbuat adil dalam kedudukannya sebagai pemimpin negara, pimpinan atau jabatan pemerintahan, atau sebagai hakim dalam pengadilan, atau sebagai bendahara mengurusi keuangan bagi suatu usaha, atau juga penyaluran shadaqah kepada yang berhak atau pengurus benda wakaf, dan dalam berbagai kewajiban pada hak anak dan istrinya, dan yang serupa itu.” (Syarah Shahih Muslim, Al-Imam An-Nawawi, hal 528).
Maka adil itu dalam konteks syari’ah Islamiyah ialah bila orang merujuk pada ketentuan syari’ah ini dalam memecahkan berbagai problem, kemudian menerima dengan lapang dada segala ketentuan syari’ah itu walaupun terasa berat di hati untuk menerimanya dan segera tunduk melaksanakan segala keputusan itu dengan sebenar-benar ketundukan.

“Maka demi Tuhanmu, tidaklah mereka beriman sehingga mereka menjadikanmu sebagai hakim pemutus perkara dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian meraka tidak mendapati di dalam diri mereka keraguan pada apa yang engkau putuskan dan mereka tunduk kepadanya dengan setunduk-tunduknya.” (An-Nisa’: 65).

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata: “Maka Allah Subhanahu wa Ta`ala bersumpah dengan diri-Nya bahwa kita tidak dianggap beriman sehingga kita menetapkan hukum Rasul-Nya dalam segala perkara yang diperselisihkan di antara kita, dan hati kita menerima dengan lapang dada hukum beliau. Sehingga tidak terdapat keraguan atau pengingkaran pada hati kita. Kemudian kita tunduk menunaikan keputusan itu dengan sebenar-benar ketundukan. Maka kita tidak mempertimbangkan lagi kebenaran hukum itu dengan akal atau pikiran, atau hawa nafsu, ataupun dengan yang lainnya. Sungguh Allah Ta’ala telah bersumpah dengan diri-Nya bahwa Dia telah menafikan iman pada orang-orang yang lebih mendahulukan akal dari pada apa yang diajarkan oleh Rasul-Nya. Dan memang mereka sendiri telah mempersaksikan keingkaran mereka terhadap makna Al-Qur’an itu walaupun mereka menyatakan beriman kepada lafadhnya.” (As-Shawaiqul Mursalah jilid 3 hal. 828)

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan: “Orang-orang bodoh tentang agama ini tidaklah termasuk orang-orang yang adil. Demikian pula ahlul bid’ah tidak termasuk padanya. Oleh karena itu yang dikatakan orang-orang adil adalah Ahlul Sunnah wal Jama’ah, yang mereka ini adalah para Ulama ilmu-ilmu syari’ah. Adapun para ilmuwan dalam disiplin ilmu yang lainnya, kalupun dikatakan sebagai ulama, tetapi itu hanyalah penampilannya saja dan tidak pada hakekatnya.” (Fathul Bari, jilid 13 hal. 316).
Jadi sikap adil itu hanyalah bisa terlaksana dengan bimbingan syari’ah Islamiyah. Adapun orang yang bodoh tentang ilmu syari’ah ini, dia lebih banyak dipengaruhi oleh hawa nafsunya sehingga akan sangat terhalang untuk berbuat adil karenanya. Ibnu Atsir rahimahullah dalam mendefinisikan makna adil, beliau menerangkan: “Adil itu ialah sikap yang tidak condong kepada hawa nafsu yang berakibat kepada kedhaliman dalam hukum.” (An-Nihayah fi Gharibil Hadits, jilid 3 hal. 190).

Allah Ta’ala memperingatkan kaum Mukminin dari bahaya hawa nafsu yang akan sangat menghalangi orang berbuat adil.

“Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga kalian berbuat tidak adil.” (An-Nisa’: 135).

Baca Juga :